Friday, May 29, 2009
THIS IS SO RELATED...
........
.....
....
...
Bila dilanda musibah
Hati tabah mula rebah
Jangan biarkan dugaan
Rapuhkan pedoman hidup
Andai waktu itu tiba
Semaikan sifat bersabar
Hanya Dia saja menentu
Dan kita hanya mampu sujud
Jika direnung kembali
Dari kehidupan
Pelbagai halangan kutempuh penuh cabaran
Tiada satupun ku hadapi dengan senang dan
Tiada satupun ku hadapi dengan tenang
Tapi ku bersyukur
Di saat ku murung
Ku musikkan dalam kedua telapak tangan
Semangat yang dah luntur
Harapan yang dah terkubur
Diberi arah tukku teruskan
Pernah kulihat mereka
Yang hilang segalanya
Insan yang tersayang
Atau harta benda
Pancaroba bencana juga malapetaka
Adalah sebahagian ujian dunia
Di sebalik kesusahan
Tidak letih mengerti erti kesenangan
Harusku akur dengan apa yang telah dikurnia
Barangkali esok semua berubah
Janganlah kita melupakanNya
Ketika langit cerah bersinar
Janganlah kita melupakanNya
Ketika langit mendung tak bercahaya
Hanya mampu sujud…..
....
Sunday, May 10, 2009
Dugaan Ini
“Betapa ajaibnya orang yang beriman itu. Sesungguhnya semua perkara adalah baik bagi mereka. Dan tiadalah kebaikan itu kecuali bagi mukmin. Jika memperoleh kegembiraan dia berterima kasih bererti kebaikan baginya dan jika ditimpa kesulitan dia bersabar bererti kebaikan baginya.” (Hadis riwayat Imam Muslim)
Sesungguhnya sebagai seorang hamba, Mak Lijah hanya mampu pasrah dan reda dengan dugaan ini. Pun begitu semangat juang Mak Lijah tak akan luntur kerana sifat pasrah dan reda tidak dimiliki oleh orang munafik kerana orang yang menentang ketetapan serta suratan Allah tidak tergolong dalam golongan yang beriman.
Rasulullah SAW bersabda bermaksud:
“Dari Abu Hurairah, sabda Rasulullah SAW: Jika engkau terkena oleh sesuatu musibah, maka janganlah engkau berkata: Andai kata saya mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu. Tetapi berkatalah: Ini adalah takdir Allah dan apa saja yang dikehendaki oleh-Nya tentu Dia melaksanakan-Nya, sebab sesungguhnya ucapan andai kata itu membuka pintu godaan syaitan.” (Hadis riwayat Imam Muslim)
Dugaan dan ujian yang sedang Mak Lijah lalui kini adalah suatu frasa kehidupan yang paling hebat, rumit dan sukar yang pernah Mak Lijah tempuhi sepanjang hayat Mak Lijah. Dugaan ini telah menghampiri kemuncak sehinggakan nyaris keputusan sudah sampai di hujung lidah. Ketika itulah amat penting bagi Mak Lijah menentukan pertimbangan sama ada terus menghadapinya dengan cekal, berikhtiar dan berusaha menyelesaikan segala kekusutan ataupun menyalahkan takdir semata-mata.
Mak Lijah benar-benar keliru dan tak faham, kenapa manusia sering mengambil kesempatan ke atas diri orang lain... Mengapa mesti ada sifat dengki mendengki dan iri hati sesama kita? Tidak cukupkah dengan apa yang mereka dah ada selama ini? Mak Lijah terkilan bila kejujuran manusia disalah gunakan...
Mak Lijah terkejut, tergamam dengan ketaksuban dan ke'terdesakan' manusia ini (jika benar dia manusia, atau dia sebenarnya syaitan bertopengkan manusia) yang tidak berhati perut yang mengambil peluang untuk kepentingan diri sendiri demi memusnahkan kehidupan orang lain. WHAT THE BLOODY HELL...!!! WHAT RIGHTS DO THEY HAVE TO MESS-UP MY LIFE...???..!!!!
And I have decided that I am going to face it, deal with it, and end it MY WAY.
Do not mess with me.
I have warned you...
Thursday, May 7, 2009
Question: What is a Midlife Crisis?
Enjoy..
Someone once said to me "if it weren’t so cliché I'd think I was having a midlife crisis." There is nothing cliche or trite about a midlife crisis. If you talk to middle aged men and women who have experienced divorce you will find that many of them will tell you their spouse changed overnight. Became someone who discarded all that was once important to them for a new life that was all about what they wanted.
A midlife crisis is experienced between the ages of 40 and 60. It was first identified by the psychologist Carl Jung and is a normal part of the maturing process. Most people will experience some form of emotional transition during that time of life. A transition that might cause you to take stock in where you are in life and make some needed adjustments to the way you live your life.
Most seem to come through the process smoothly without making major life changes. For some a midlife crisis is more complicated. It can be an uncomfortable time emotionally which can lead to depression and the need for psychotherapy. Those who have a hard time with this transitional stage might experience a wide range of feelings, such as:
- Unhappiness with life and the lifestyle that may have provided them with happiness for many years.
- Boredom with people and things that may have been of interest to them before.
- Feeling a need for adventure and change.
- Questioning the choices, they have made in their lives and the validity of decisions they made years before.
- Confusion about who they are and where they are going.
- Anger at their spouse and blame for feeling tied down.
- Unable to make decisions about where they want to go with their life.
- Doubt that they ever loved their spouse and resentment over the marriage.
- A desire for a new and passionate, intimate relationship.
Debt:
It is easier to accumulate debt due to the availability of credit cards and loans. We are bombarded by credit card companies and it is easy to find yourself with large balances owed. We live in a society where it is commonplace to be living above our means. Finding yourself middle aged, in debt and facing retirement can add stress to an already stressful time in life. A normal reaction would be to seek help from a debt management company or consolidate your loans. A person who is finding it difficult emotionally during midlife might find it easier to walk away from their family in order to rid themselves of what they feel is the cause of all the debt.
Significant Loss:
The death of a parent or family member can cause grief, which is difficult enough to come to terms with, without having to also cope with the feelings of a midlife transition. Put the loss of a loved one with the feelings that accompany midlife and the whole process becomes bewildering and overwhelming.
Avoidant Personality:
If a person has a tendency to avoid conflict in their personal relationships, suffers from feelings of inadequacy, are emotionally distant and has low self – esteem they will find midlife transition harder to navigate. This personality type has a deep fear of feeling shame and rejection. Such feelings will keep them from seeking help should their emotions become overwhelming. More than likely, they will run from their problems instead of trying to find solutions to them. It’s this personality type that normal ends up in divorce court during midlife.
Whether there are external factors that make the process more difficult or not, there is an internal process that is gone through. If a person lacks understanding of the process, they may find themselves making irrational decisions they may later regret. Decisions such as leaving a job, divorcing their spouse and throwing away the security that they have built up during the first part of their life.
Wednesday, May 6, 2009
tak bisa memiliki
Apakah yang engkau cari
Tak kau temukan di hatiku
Apakah yang engkau inginkan
Tak dapat lagi ku penuhi
Begitulah aku
Pahamilah aku
Mungkin aku tidaklah sempurna
Tetapi hatiku memilikimu sepanjang umurku
Mungkin aku tak bisa memiliki
Dirimu seumur hidupku
When things go wrong
Ever felt that the whole world is against you? I feel that people take the good things in life for granted and moan and groan about all the bad stuff. The bad stuff can be devastating depending on the situation. Sometimes we have to deal with things on our own and sometimes it is in our best interest to get others close to us to assist us.
But now, I don't know if I would have the strength and sanity anymore to carry on...
Heh..Meh lah kita layan...
Jangan lagi kau sesali keputusanku
Ku tak ingin kau semakin kan terluka
Tak ingin ku paksakan cinta ini
Meski tiada sanggup untuk kau terima
Aku memang manusia paling berdosa
Khianati rasa demi keinginan semua
Lebih baik jangan mencinta biar ku dan semua hatiku
Kerana tak kan pernah kau temui cinta sejati
Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi
Sekalipun aku tak kan pernah mencoba kembali padamu
Sejuta kata maaf terasa kan percuma
Sebab rasa ku telah mati untuk menyedarinya
Tapi bukan aku
Semoga saja kan kau dapati
Hati yang tulus mencintaimu
Tapi bukan aku
Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi
Sekalipun aku tak kan pernah mencuba kembali padamu
Sejuta kata maaf terasa kan percuma
Sebab rasa ku telah mati untuk menyedarinya
,
,
,
,
and this lovely one...
.
.
.
Aku Bukan Untukmu
Dahulu kau mencintai ku
Dahulu kau menginginkan ku
Meskipun tak pernah ada jawabku
Tak berniat kau tinggalkan aku
Sekarang kau pergi menjauh
Sekarang kau tinggalkan aku
Disaat ku mulai mengharapkan mu
Dan ku mohon maafkan aku
Aku menyesal telah membuat mu menangis
Dan biar kan memilih yang lain
Tapi jangan pernah kau dustai takdir mu
Pasti itu terbaik untuk mu
Janganlah lagi kau mengingat ku kembali
Aku bukanlah untukmu
Meski ku memohon dan meminta hatimu
Jangan pernah tinggalkan dirinya
Untuk diriku...
Sekarang kau pergi menjauh
Sekarang kau tinggalkan aku
Di saat ku mulai mengharapkan mu
Dan ku mohon maafkan aku
Wednesday, April 15, 2009
The End...
Dewi dah dipulangkan kepada agen. Interesting part is, dia tak tau yang Mak Lijah dah terminate her service sebab dia hanya diberitahu yang dia dihantar ke agen untuk melanjutkan permit kerja dia. Ha..ha..ha.. Padan muka kena tipu.
Sebenarnya Mak Lijah hantar dia balik Perlis so that Mak Tok (read: Mak Lijah's Mom) dapat menggunakan khidmat dia sementara agen memproses maid baru Mak Lijah. Malangnya, dia sambung balik perangai buruk dia di rumah Mak Tok pulak. Dah pandai guna telefon Mat Tok. Entah berapa jam lah dia bergayut kali ni.
Pak Tok pulak dah mula rasa uncomfortable sebab si Dewi tu suka melangut depan tv kat ruang tamu, sukati jer tukar channel 106, and buat macam rumah sendiri. Tak respect langsung kat Pak Tok.
Pehtu, Mak Tok mengadu pe'el dia yang sangat busy body. Kalau bunyi jer deringan telefon, dia pun berenti buat kerja to listen to Mak Tok's conversation. Boleh? Dia nak tau kut-kut Mak Tok bersembang dengan Mak Lijah le tu.
Semalam Mak Lijah dapat tahu, dia dok menelefon ahli-ahli Persatuan Mesyuarat Tingkap (yes, all the way from Perlis) minta di update kan apa yang berlaku di rumah ni. Sambil-sambil tu mengadu yang dia dah tak dapat lagi jumpa suami dia. Aik..??? Nak kerja ke... nak jumpa laki je ni...????
Satu lagi perkara yang Mak Lijah dapat tahu ialah dia dah pinjam entah berapa ratus ringgit daripada sorang ahli persatuan tu. Oh my God...!!! Apa lagi pompuan tu....!!! Did I hire a monster????
Friday, March 20, 2009
Confession...confession...
.
.
Alas... confession day arrived, after two weeks of safeguarding her sins.
Adegan paling meluat sekali.
Mula-mula melutut dulu..
"Kak, kalau saya cakap, Kakak jangan marah."
(Me not in so good mood sebab baru balik ofis, extremely tired after a long day at work. I was seating on the couch reading The St@r)
(Diam)
"Apa betul Kakak tak suka saya kerja dengan Kakak lagi?
(Me, stopped reading, confused)
"Huh? Kamu cakap apa ni?"
"Saya mau tau Kakak dah tak suka saya kerja dengan Kakak, ke?"
"Kenapa kamu cakap macam tu?" (Flipping the paper back and forth, not really reading, anger brewing inside)
"Tadi ibu saya bilang Misterrr Lee (agent) telpon dia. Dia cakap Kakak tak suka saya kerja sini."
"Huh? Ibu kamu telefon kamu? Itu jer dia cakap? Takkan tu jer dia cakap?" (Hint..hint..)
"Err... pasal itu hari..."
"Hah..! Kenapa?"
"Memang ada suami saya datang. Itu memang gambar dia."
"Habis tu? Kenapa kamu tipu hari tu?"
"Sebab saya takut."
"Takut apa?"
"Saya takut Kakak marah."
"Sekarang baru saya marah. Kenapa kamu tipu dulu? Kamu ni main-mainkan Allah. Sebut sumpah demi Allah.. Laknatullah... Kamu ni Islam ke apa? Berdosa besar kamu ni. Dah lah menipu, bersumpah dengan nama Allah pulak tu. Nak kena panah petir ke apa?"
(Flipping the same page over and over again)
"Ya, saya salah." (Dah agak skrip ni nak keluar - like I care)
"Saya dah beri kamu peluang haritu untuk mengaku. Tapi kamu cakap kemain lagi. Hentak-hentak periuk nasilah. Kamu ingat kamu ni siapa? Kalau mak kamu tak telefon kamu, kamu tak ngakulah?"
"Tak....Hari tu, masa Datin (read: Mak Mak Lijah) telefon, dia bilang, Kakak mau repot polis. Saya jadi takut. Saya mau cakap yang benar tapi saya takut."
"Hah... memang saya dah repot polis. Polis pun dah datang rumah tapi kamu tak tau. Saya dah bagi gambar CCTV tu kat diorang. Lantaklah siapa yang kena nanti. (That was a total lie) "Sampai boleh naik kat tingkat atas. Apa kamu buat kat atas tu?"
"Pergi toilet saja, Kak...!!" (Suara agak tinggi)
"Huh? Pergi toilet? Yang kamu jahanamkan toilet di bawah tu per hal?" (I had to pay RM90 to a plumber to fix the toilet just to find it tersumbat again)
"Ya, saya salah." (Again, do I care?)
"Sampai boleh tidur kat sini. Berapa hari dah dia tidur sini?"
"Tak, Kak..! Dia tak tidur di sini. Dia pulang."
"Tipu lagi kamu ni."
"Betul, Kak, dia pulang."
"Bila dia pulang?"
"Petang tu. Esok paginya dia datang lagi, dan pulang petangnya." (The husband works in Klang. Is it logical for him to travel that far each morning, go back that petang, and return the next day?)
"Ah.. dalam kamu mengaku ni pun, kamu nak menipu lagi. Saya tak nampak pun dia keluar rumah hari Isnin tu. Tak nampak pun dia datang pagi Selasa tu? Kamu tahu tak saya tengok CCTV tu setiap detik pergerakan kamu?" (...and I did not see him leaving or arriving at the house).
"Ya, saya tau." (Konon...)
"Macamana saya nak percayakan kamu lepas ni? Kamu ingat saya boleh percaya kamu lagi? Bersumpah bagai.."
(Total silence, while Danish slowly came and sat next to me. Had to calm down.)
"Habis Kak, saya masih kerja di sini?"
"Nasib kamu di tangan Abang, sekarang ni." (Finally able to flip to a new page)
;
;
;
;